Dilematika Penulisan Istilah Bahasa Daerah dan Samarnya Budaya

images

Oleh Andi Sumangelipu

Mantan Pemimpin Redaksi MATOWA, Peneliti Wadjo Institute, Mantan Peneliti Indonesian Research & Development Institute (IRDI) Jakarta.

 

Mengawali dengan sebuah anekdot, Si A membaca sebuah teks lontara’ Bugis; bembe’ bolonna gurummu (kambing hitam milik gurumu), pada teks yang sama Si B membaca; bebbe’ bolo’na gurummu (meler ingus gurumu). Keduanya memang memiliki tulisan aksara yang sama dalam aksara lontara’ namun berbeda dalam penyebutan (fonemis) apalagi maknanya.

 

Dalam interaksi sehari-hari terkadang agak dimafhumi penggunaan bahasa yang tidak baku, prokem, atau pilihan kata dan nada yang kurang tepat (diksi dan fonem) baik lisan dan tulisan, lingkup formal dan non formal karena pada prinsipnya mengerti tujuan dasar pemberi informasi, apalagi komunikasi dalam interaksi tatap muka (face to face).

 

Pemakluman ini rasa-rasanya kurang diperkenankan jika menyangkut informasi- informasi dalam ranah penulisan sejarah dan budaya. Kesalahan penulisan, kata dan bahasa serapan dapat mengaburkan informasi sejarah yang ingin disampaikan.

Sebagaimana bahasa asing lain, Tata Bahasa Indonesia juga kemudian mengatur tata bahasa termasuk berbagai serapanserapan ragam bahasa daerah yang banyak jumlahnya selain bahasa-bahasa asing. Meskipun begitu, keterbatasan suatu bahasa menerjemahkan substansi bahasa lain ke bahasanya masih kerap dijumpai, karena kekayaan fonetik suatu bahasa yang berkaitan dengan harakat,  konsonan, penekanan, aksen, durasi, nada dan sebagainya tidak dapat diwakili oleh bahasa tulisan.

Kondisi seperti ini sering kita jumpai dalam tata bahasa daerah kita, misalnya – sebagaimana juga penulis lebih suka menggunakan penulisan- lontara’ (dengan apostrof), ketimbang menggunakan lontarak (anjuran EYD), apalagi lontaraq (kebiasaan budayawan asing). Kita sebagai pemilik bahasa ini (Bugis dan Makassar) tentu merasakan adanya perbedaan substansial pada penekanan ketiga penulisan itu. Orang asing (selain dari orang Bugis dan Makassar) jika menuliskan lontarak dan lontaraq dalam suatu tulisan, maka tentu kita maklum serta mafhum akan maksud dan tujuan dari informasi itu. Penulisan lontarak sebagai anjuran EYD itu wajar saja, karena mereka asing dengan bahasa Bugis-Makassar, sama asingnya dengan para budayawan asing yang menulis lontaraq, lidah mereka tidak familiar dengan lidah daerah Bugis Makassar. Dan kita pun harus (harap) maklum. Yang ironis kemudian para penulis budaya kita justru kebanyakan ditemukan taqlid menuliskannya sebagai lontaraq yang malah menjauhkannya dari EYD sekaligus sudah mengaburkannya dari fonem asalnya.

 

Perhatian menyangkut penulisan bahasa serapan dari bahasa apapun perlu ditelisik sampai pada bahasa aslinya, jika memungkinkan memilih bahasa Indonesia yang paling mendekati atau mewakili makna, diksi, substansi, fonem-nya (lain halnya jika tidak ada sama sekali). Perkembangan dan kekayaan bahasa yang begitu pesat, tidaklah mengharuskan seluruh kalimat yang digunakan adalah serba kalimat baku berdasarkan EYD, tapi melakukannya pun tentu sangat baik. Yang menjadi harapan di sini adalah perhatian para penulis terhadap penulisan kata-kata serapan,  terkhusus pada ranah penulisan budaya dan sejarah. Hal ini memudahkan generasi berikutnya menelusuri kembali jejak jati dirinya pada napak tilas nenek moyang mereka kelak.

Beberapa contoh kasus samarnya sejarah akibat kekeliruan penulisan dan kebingungan membaca kata-kata antara lain kutipan berikut;  “Lihat Tome Pires. 1944, The Suma Oriental, translated and edited by Armando Cartessao, London. Selain itu, Sejarah Melayu juga menyebut bahwa pada masa pemerintahan Sultan Mansur Syah terjadi suatu penyerbuan ke atas Melaka oleh seorang yang dikatakan berasal dari Tanah Makasar, yang namanya ditulis dalam huruf Jawi s-m-r-l-w-k. (Semerluki atau Samarluka). Keterangan lanjut, lihat W.G. Shellabear. 1975. Sejarah Melayu. Kuala Lumpur, Cet. ke-19. Kemudian, diandaikan nama sebenarnya tokoh ini adalah Karaeng Sama ri Luka yaitu Raja Bajau dari Luwuk yang barangkali merujuk kepada tokoh Karaeng Bayo yang disebut dalam tradisi tentang pengasasan kerajaan Makasar yang bernama Goa” Yang menjadi kabur di sini adalah Samarluki, Semerluki ataupun Sama ri Luka yang juga masih buram.

 

Kebingungan serupa juga ditemukan Pelras (1991) “Penghijrahan dan Penyesuaian Orang Orang Bugis di Johor: Suatu Proses Perubahan Budaya”. Seperti; “… Pemimpin mereka yang ditulis namanya dengan huruf Jawi, p-i-b-t-h (barangkali Pabitei)..”, juga pada; “.. Daeng Ahmad mengaku mempunyai keturunan Raja Bugis Campa melalui anaknya yang kedua yang namanya ditulis a-n-d-r-p-m-a (barangkali Indravarman, meskipun nama ini tidak pernah dipakai oleh orang Bugis dari Sulawesi). Indrayarman kembali ke Wajo’ setelah ayahnya mangkat.” Pada kutipan ini dijumpai nama yang hanya ditulis dalam alphabet p-i-b-t-h yang dikira-kira Pabitei, dan a-nd-r-p-m-a juga diduga-duga sebagai Indravarman dan terus bergeser Indrayarman (tergantung lidah penulisnya). Semua nama tersebut tidak ada yang akrab dengan nama-nama Bugis maupun Makassar, malah lebih mudah dikenali sebagai nama Sansekerta (lihat Indravarman). Rela atau tidak, sejarah inilah yang menjadi acuan kita hingga kini. Penulisan karakter alfabet seperti di atas dikarenakan oleh pencatat sejarah awal yang melihat langsung dari naskah Jawi tersebut menyesuaikan dengan lidahnya sebagai orang asing, atau kurang mengerti bahasa asalnya (BugisMakassar). Ini memang sangat rumit, seperti halnya –hanya contoh- seorang Bugis/Makassar datang ke Johor, menyebutkan namanya sebagai Karaeng Aji, dicatat dalam sejarah Johor sebagai Keraing Aji (sesuai lidah mereka) kemudian ditulis dalam bahasa Jawi, datanglah orang Belanda dan Portugis melihat lalu mencatat sebagai k-r-a-a-j (beginilah hasil huruf Jawi dalam karakter alfabet), maka hasil tafsirnya dalam bahasa kita bisa menjadi keraja, keraju dan seterusnya. Kemudian datang pakar lain mencoba menghubungkan dengan nama-nama BugisMakassar bahwa yang benar adalah Karajang. Begitu seterusnya akan menjadi tambah jauh dari yang sebenarnya, kemudian orang Bugis belakangan hanya dapat mengutip istilah para  pakar budaya asing tadi.

 

Sebuah kesyukuran bahwa para budayawan asing telah memberikan atensi yang besar dan kerja keras dalam menelusuri budaya kita. Kekeliruan penulisan dari mereka tentang istilah budaya kita adalah suatu kewajaran, asal kesalahan tidak datang dari penulis budaya kita sendiri. Kerugiannya adalah mau tidak mau, kita harus mengakui adanya kenyataan bahwa ada nenek moyang kita yang dulu pernah menguasai Malaka dengan nama Samarluki yang sama samar-nya dengan sejarah budaya kita.

 

Comments are closed.